Ada semacam dorongan kuat, yang timbul dari dalam diri manusia, untuk mengunjungi kampung halaman ketika bedug Lebaran mulai bertalu. Mudik, menjadi ritus tahunan yang telah bertransformasi menjadi sebuah tradisi. Terlebih bagi kita, masyarakat Indonesia (dan masyarakat Jawa, khususnya) yang sedari dulu akrab dengan fenomena mudik Lebaran.
Lewat ajang mudik inilah, kerinduan kepada kerabat, sanak famili, dan terlebih kepada orang tua mampu terpenuhi. Merayakan hari raya Idul Fitri bersama –yang notabene merayakan sebuah ‘kemenangan’—menjadi impian semua orang. Menyambung tali silaturahim yang mungkin, sempat putus, kemudian saling memberi dan menerima maaf adalah sesuatu yang sangat menentramkan hati nurani dari dahaga kasih sayang tiap insan manusia.
Apapun akan dilakukan orang untuk melakukan agenda mudik. Entah itu berdesak-desakan ketika naik moda transportasi massal, mesti mengeluarkan biaya lumayan besar untuk perjalanan mudik, dsb, semuanya dilakukan dengan satu tujuan: kembali ke kampung halaman untuk bertemu handai tolan.
Sebuah pepatah masyarakat Jawa mengatakan "mangan ora mangan sing penting kumpul". Ada sebuah kebahagian yang teramat luar biasa, ketika seluruh anggota sanak famili dan kerabat berkumpul, kendati dalam keadaan yang memprihatinkan sekalipun. Terlebih, jika pada saat berkumpul semacam itu dalam kondisi serba cukup. Semakin lengkap rasanya, ‘kemenangan’ yang kita rasakan.
Dalam kultur masyarakat Jawa pula dapat ditemui kebiasaan ketika sebuah keluarga besar berkumpul saat Lebaran tiba. Biasanya setelah saling memaafkan (dan menikmati sajian khas Lebaran, tentunya), mereka beramai-ramai melakukan ziarah kubur. Mengingat para leluhur, kemudian mendoakannya, sebagai upaya menghormati sekaligus berbakti kepada orang tua yang telah tiada.
Dalam konteks semacam itu, maka mudik dapat diartikan tidak sekadar pulang ke rumah asal. Atau pulang dari kota sebagai tempat mencari nafkah, ke desa/kampung sebagai tempat kelahiran. Namun lebih dari itu. Mudik menjadi prosesi untuk kembali menemukan hakekat jati dirinya. Menemukan kembali asal-usul dirinya, dan menyadari akan ke mana dirinya pulang kelak.
Ini artinya, lewat fenomena mudik, kita sejatinya diingatkan siapa sebenarnya diri pribadi kita. Terlebih saat kita ingat bahwasanya hidup di dunia ini laksana --meminjam istilah orang bijak-- "mampir ngombe". Maka lewat ajang mudik, sedikit banyak, kita harus berusaha untuk meminggirkan rasa egoisme, individualisme, termasuk di dalamnya ‘ngangsa’ (rakus/tamak), dan takabur (menyombongkan diri). Serta menyuburkan ajaran untuk saling mengasihi dan menyanyangi satu sama lain. Termasuk berlaku adil kepada alam sekitar. Mudik telah mengajarkan banyak hal kepada kita semua. Satu yang mesti disadari, manusia adalah makhluk lemah tak berdaya. Yang tak luput dari segala kesalahan dan dosa.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H.
Jumat, 26 Oktober 2007
Langganan:
Postingan (Atom)
