Anda masih ingat kejadian gempa dahsyat yang mengguncang Bumi Mataram tahun lalu? Di saat perhatian banyak orang tertuju pada Merapi di utara, tiba-tiba kita dikejutkan guncangan gempa yang berpusat di selatan. Memang, gempa ‘hanya’ berlangsung selama 57 detik. Namun, carut marut penanganan serta ekses yang ditimbulkan, boleh jadi, masih terus terjadi.
Sehari setelah gempa 27 Mei itu, Presiden Yudhoyono memutuskan boyongan pindah ke Yogya. Padahal, gempa Yogya tak dimasukkan ke dalam status bencana nasional. Kenapa? Maklum, Bumi Mataram dalam mitologi politik dikenal sebagai pusat kekuasaan negeri ini. Siapa pun yang hendak berkuasa di negeri ini, harus selalu ‘mengayomi’ Bumi Mataram. Di sisi lain, jika bencana yang terjadi di Bumi Mataram dikategorikan sebagai bencana nasional, kendali penanganan bencana berada di tangan Wapres. Sudah menjadi rahasia umum, jika dwi tunggal SBY-JK tengah mengalami friksi akibat atraksi politik yang kerap diperagakan JK.
Apa yang terjadi kemudian? Rakyat bisa melihat sendiri. Penanganan bencana, dalam hal ini gempa Yogya, dibalut kalkulasi politik, kemanusiaan, mistis, dan rasionalitas. Di pihak lain, rakyat yang notabene menjadi korban, pasti tidak lupa dengan janji Wapres. Dana perbaikan rumah mencapai Rp 30 juta (rusak berat). Padahal, janji kepada orang menderita, jika tidak direalisasikan sungguh mengerikan.
Terlepas dari itu semua, yang jelas, tidak semua yang terjadi di alam semesta ini dapat diterjemahkan secara ilmiah. Karena konsep kepemimpinan adalah menjaga keseimbangan manusia dan alam atas dasar kepercayaan. Pemimpin, tidak hanya memimpin manusia saja namun juga ‘mengayomi’ alam yang didiami manusia yang dipimpinnya. Konsep seperti itu jelas terlihat dalam kepemimpinan di Jawa. Seperti Hamengku Buwono, Paku Alam, dan Mangkubumi.
Ketika rasa ketidakadilan menyeruak, sesak di dalam dada, apa yang terjadi? Rakyat –sebagai manusia yang dipimpin—jelas tidak terima. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hak-haknya. Dan bentuk protes rakyat seperti itu mudah dilihat secara kasat mata. Bagaimana dengan alam?
Seperti yang terjadi di Bumi Mataram tahun lalu. Merapi di utara terus bergejolak dan gempa menyapa dari selatan. Orang Jawa sejak dulu meyakini bahwa Merapi dan Laut Selatan adalah bukti konkret ayat-ayat Allah. Ketika ayat-ayat tersebut memberi pertanda, tentu ada ketidakberesan yang tengah terjadi. Ini harus diyakini betul.
Dalam ajaran Islam (Al-Qur’an), malapetaka yang menimpa umat manusia bersumber dari menyekutukan Allah, kesombongan, keserakahan, ketidakadilan, orientasi penguasa pada kekuasaan, dan kemerosotan moral serta etika. Tatkala penguasa menghimbau rakyat untuk hidup hemat; mereka sendiri hidup bermewah-mewahan. Terlalu sering kita mendengar pemimpin mengajarkan tepa selira; banyak elite saling bertikai.
Seharusnya disadari, menjadi pemimpin harus lebih mendekatkan diri kepada Allah seraya tawadhu/rendah hati. Mengakhiri segala bentuk kepalsuan yang ada, tidak mengejar nafsu serakah kekuasaan, dan bekerja tulus ikhlas demi kehidupan rakyat adalah tugas mulia seorang pemimpin. Karena menjadi pemimpin memang berat.
Semuanya itu dapat disadari jika para pemimpin mau belajar dari hikmah di balik bencana, terutama prahara di Mataram. Apakah mereka akan berubah untuk selanjutnya bekerja nyata demi rakyat atau malah tenggelam dalam imaji seraya tebar pesona dan janji? Hanya waktu jualah yang akan menentukan.
Minggu, 05 Agustus 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar