Minggu, 05 Agustus 2007

Dirgahayu RI di Tengah Keprihatinan Bangsa

Tak terasa sesaat lagi kita akan memperingati Dirgahayu RI ke-62. Selama 350 tahun bangsa kita dijajah Belanda, ditambah 3,5 tahun zaman kependudukan Jepang, sungguh perjuangan yang maha-berat. Dan setelah melalui pengorbanan panjang para pendahulu kita, ditambah rahmat dari Yang Maha Kuasa, tepat 17 Agustus 1945 kemerdekaan RI diproklamirkan.
Dalam rentang waktu hingga hari ini, rakyat bisa menilai perjalanan bangsa kita. Ternyata, semakin hari perjalanan yang harus kita lalui semakin berat. Perilaku korup yang dilakukan rezim terdahulu, membuat rakyat mesti memikul beban berat. Parahnya, korupsi kini telah mengakar begitu kuat dan menjangkiti semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Berbagai harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Harga BBM tak dapat dikatakan murah akibat pengurangan subsidi Pemerintah. Harga beras dan gula sempat melonjak tajam, belum lagi kebijakan impor yang seolah menjadi solusi pamungkas. Ini pun masih diperparah perilaku korup yang dilakukan mantan Direktur Bulog.
Di lain pihak, pendidikan kini menjadi barang mahal yang tak setiap orang mampu menikmatinya. Bahkan, kini Pemerintah (DPR) tengah menggodok RUU Badan Hukum Pendidikan yang ternyata mengarah ke swastanisasi pendidikan. Biaya pendidikan yang mahal, jelas dikarenakan peran negara minimal. Jika Pemerintah melepas tanggung jawabnya, lantas diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, bukan tak mungkin biaya pendidikan terus melangit.
Di samping itu, berbagai bencana dan musibah terus mendera perjalanan bangsa kita beberapa tahun terakhir. Mulai dari gempa dan tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogya-Jateng, musibah banjir bandang dan tanah longsor di berbagai daerah, hingga semburan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo yang hingga saat ini terus menimbulkan ketidakpastian masa depan bagi puluhan ribu pengungsi. Ini pun masih ditambah kecelakaan yang menimpa moda transportasi di negara kita. Tepat saat pergantian tahun lalu, KMP Senopati Nusantara tenggelam di perairan Mandalika, Jepara, disusul jatuhnya pesawat Adam Air saat rute penerbangan Surabaya-Manado, terbakarnya KM Levina, dan anjloknya berbagai rangkaian gerbong KA yang semuanya itu menimbulkan kepedihan tiada tara.
Yang membuat kita prihatin, tampaknya ‘gegap-gempitanya’ musibah di negeri ini tak menyadarkan elite untuk memuliakan rakyatnya. Rakyat malah disuguhi perilaku elite yang seakan tak memikirkan nasib rakyatnya. Singkat kata, elite kini menjadi kaum eksklusif baru yang hidup terpisahkan samudera luas dengan rakyatnya. Antarelite malah saling curiga dan menjatuhkan satu sama lain. Kita lihat, antar tokoh menampilkan visinya sembari menihilkan visi yang ditampilkan tokoh lain. Akibatnya, laju perjalanan bangsa kian berat, dan ujung-ujungnya nasib rakyat kian terabaikan.
Belum lagi gempuran dahsyat globalisasi, tak pelak membuat nasib bangsa kian terjepit di tengah persaingan dunia. Perusahaan asing kian kuat menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di Tanah Air, dan pada saat bersamaan, banyak BUMN ‘gemuk’ digadaikan kepada perusahaan luar.
Melihat kondisi penuh keprihatinan di atas, sudah saatnya momentum peringatan RI dijadikan ajang mengevaluasi diri. Terutama bagi pemerintah. Apakah mereka sudah memperhatikan benar nasib rakyat yang telah memberikan amanat? Sebagai pemimpin sudah seharusnya bersikap rendah hati dikedepankan. Bukan sebaliknya, bersikap pongah, congkak, dan –lebih tragis—melupakan nasib rakyatnya. Kata orang Minangkabau, pemimpin itu hanya selangkah didepankan, seranting ditinggikan. Tak elok jika kenikmatan (secuil) yang didapat malah memisahkan dengan rakyat yang dipimpinnya.
Dirgahayu RI ke-62!

Tidak ada komentar: